






JAKARTA, 05 Januari 2025 – Menjadi seorang pendidik bukan sekadar menjalankan kurikulum, melainkan tentang menyentuh hati. Pada Senin pagi yang khidmat, Aula Masjid Al Hikmah Lantai 4 menjadi saksi bisu transformasi pemikiran para pendidik dalam acara bertajuk “Workshop Menjadi Guru Transformatif yang Dirindukan”. Kegiatan ini menekankan bahwa esensi pendidikan sejati bermuara pada satu kata: Cinta.
Membangun Fondasi Guru Transformatif yang Dirindukan dari Dalam Diri
Kegiatan diawali dengan sesi refleksi diri yang mendalam. Para peserta diajak memahami bahwa tidak ada kerinduan tanpa cinta. Seorang Guru Transformatif yang Dirindukan harus mampu membenahi diri sebelum membenahi anak didik. Perbaikan sikap dimulai dari rumah tangga yang harmonis. Ketika seorang guru memiliki kedamaian di rumah, ia akan membawa aura positif yang mampu menumbuhkan cinta di setiap sudut ruang kelas.
Dalam penyampaian materi, ditekankan bahwa tanpa cinta, segala sesuatu di sekolah akan terlihat salah. Kedekatan emosional antara guru dan murid adalah kunci utama hidayah tersampaikan. Jika seorang guru tidak memiliki cinta, maka kehadirannya tidak akan memberikan dampak, dan lambat laun ia akan ditinggalkan secara emosional oleh murid-muridnya.
Rumus Perubahan: Mengganti Amarah dengan Kekuatan Doa
Salah satu poin paling krusial dalam mencetak profil Guru Transformatif yang Dirindukan adalah cara menyikapi perilaku murid. Seringkali, anak yang dianggap “bandel” sebenarnya hanya sedang mengekspresikan ketakutan atau keinginan untuk dihargai. Mereka takut dengan nilai rendah dan sangat bahagia saat diapresiasi.
Narasumber memberikan rumus perubahan yang sangat manusiawi:
Marahnya Digantikan Doa: Jangan sampai lisan guru mengeluarkan hardikan yang menyakitkan. Hardikan hanya akan menutup pintu hati murid. Gantikan rasa kesal dengan doa tulus agar anak tersebut mendapatkan hidayah.
Jangan Mengeluarkan Murid: Seberat apa pun tantangannya, seorang pendidik tidak boleh menyerah dan mengeluarkan anak dari proses pendidikan.
Membalas Hinaan dengan Kebaikan: Rumus perubahan sejati adalah ketika dihina, kita tidak membalas menghina, melainkan berbalik mendoakan kebaikan bagi mereka.
Memahami Fenomena ‘Caper’ dan Pandangan Masa Depan
Seorang Guru Transformatif yang Dirindukan wajib memiliki pandangan masa depan yang luas. Mereka tidak boleh hanya melihat kesalahan murid hari ini, tetapi harus melihat diri guru sebagai jembatan masa depan anak didik. Jangan pernah membuat patah semangat anak didik dengan kata-kata yang mematikan kreativitas mereka.
Kita juga harus memahami bahwa anak yang marah atau bertingkah berlebihan (caper) di kelas sebenarnya sedang membutuhkan perhatian lebih. Mereka “menempel” ke guru karena merasa itulah tempat mereka bisa mendapatkan pengakuan yang tidak mereka dapatkan di tempat lain.
Keseruan Pelatihan dan Sinergi Pendidikan
Suasana di Aula Masjid Al Hikmah mencair ketika para guru mengikuti sesi ice breaking dan game edukasi. Sesi ini membuktikan bahwa pembelajaran yang menyenangkan selalu berhasil mencuri perhatian—sama halnya dengan prinsip Guru Transformatif yang Dirindukan yang harus selalu ceria di depan kelas.
Pelatihan ini ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang hangat, di mana para guru saling berbagi pengalaman mengenai tantangan di kelas. Sebelum pulang, diadakan pembagian doorprize bagi peserta yang paling inspiratif, diikuti dengan foto bersama sebagai simbol komitmen baru untuk mendidik dengan hati.
Dengan berakhirnya pelatihan ini, diharapkan seluruh guru mampu menerapkan ilmu yang didapat untuk menciptakan generasi emas yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia melalui bimbingan guru yang tulus mencintai.